Sabtu, 31 Desember 2011

Selamat Datang di website IAIN Raden Fatah Palembang





i love you my campus Selamat Datang di website Perpustakaan IAIN Raden Fatah Palembang-->


institut agama islam negri raden fatah palembang
memiliki 5 fakultas: 


1. fakultas syariah
1. Al-Akhwal al-Syakhsiyah (AS) / Hukum Keluarga
2. Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH)
3. Jinayah Siyasah (JS) / Pidana dan politik
4. Mu'amalah (M) / Perdata dan Niaga
5. Ekonomi Islam (EKI)
6. D3 Perbankan Syari'ah (DPS)



2. fakultas tarbiyah

1Jurusan/Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
2. Jurusan/Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) 
3Jurusan/Program Studi Kependidikan Islam (KI)
4Jurusan/Program Studi Pendidikan Guru Kelas Madrasah Ibtidaiyah (PGKMI)
5Jurusan/Program Studi Bahasa Inggris (PBI) 6. Jurusan/Program studi Tadris (Pendidikan MIPA)
a. Pendidikan Matematika
b. Pendidikan Biologi


3. fakultas adab

1. Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA)
2. Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam
a. Konsentrasi Ilmu Politik
b. Konsentrasi Ilmu Perpustakaan

4. fakultas ushuludin
1. Jurusan Perbandingan Agama (PA)
2. Jurusan Tafsir Hadist (TH)
3. Jurusan Aqidah Filsafat (AF)
4. Jurusan Psikologi Islam (PI)



5. fakultas dakwah

1. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI)]
a.             Konsentrasi Jurnalistik
b.            Konsentrasi Public Relation (humas)
2. Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI)
a.             Konsentrasi Kesejahteraan Sosial (kesos)
b.      Konsentrasi Konseling Keagamaan
3. Jurusan Sistem Informasi (SI)
4. Jurusan Jurnalistik




- pasca sarjana
•  Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I)
•  Magister Hukum Islam (M.H.I)
•  Magister Humaniora (M.Hum)
 - serta program S3 IAIN Raden Fatah Palembang: gedung baru & tahap pembangunan insyaAllah tahun 2012 baru dibuka.



tiap fakultas memiliki beberapa jurusan dan kosentrasi, iain adalah sebuah institusi perguruan tinggi negeri yang berbasis agama islam, lulusan dari iain akan menjadikan atau mencetak orang2 yang berbudi luhur, beriman, bertakwa dan taat kepada Allah dan Rasulnya... 

klik disini----->

-www.radenfatah.ac.id/


-perpus.radenfatah.ac.id/


FAKULTAS ADAB IAIN RADEN FATAH PALEMBANG

FAK ADAB IAIN RADEN FATAH PALEMBANG | Facebook

id-id.facebook.com/...IAIN-RADEN-FATAH-PALEMBANG/...

IAIN RADEN FATAH PALEMBANG

IAIN RADEN FATAH PALEMBANG MENERIMA MAHASISWA BARU ...


antoniyuzar.wordpress.com/.../iain-raden-fatah-palembang-menerima...

IAIN Raden Fatah Palembang

IAIN Raden Fatah Palembang - buku-on-line.com » a1.

buku-on-line.com/iain-raden-fatah-palembang/iain-raden-fatah-pale..

Kamis, 29 Desember 2011

Al-Islamiah Slideshow Slideshow

Al-Islamiah Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ Al-Islamiah Slideshow Slideshow ★ untuk Indonesia. Slideshow perjalanan gratis yang menakjubkan di TripAdvisor


PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBENTUKAN CITRA PERPUSTAKAAN
Oleh: Chrisyandi Tri Kartika (09540011)

 Peran pustakawan sangat besar untuk menumbuhkan citra perpustakaan di masyarakat, hanya saja ada beberapa pertanyaan yang sedikit menggelitik telinga kita sebagai pustakawan, yaitu apakah masyarakat tahu kata pustakawan? Siapa sih pustakawan itu? Apakah pustakawan itu sama dengan profesi penjaga rel kereta api ? yang sama-sama “membuka”, satunya kunci membuka rel jika kereta sudah lewat,  satunya kunci membuka wawasan global.
Pandangan masyarakat di Indonesia terhadap keberadaan profesi pustakawan masih kurang begitu menghargai, malah mungkin diantara pustakawan sendiri yang kurang menghargai profesinya termasuk juga mahasiswa ilmu perpustakaan di sebuah perguruan tinggi yang malu untuk menjawab jika ada yang bertanya jurusan apa yang diambilnya.
Pandangan masyarakat itu pula yang banyak mempengaruhi kondisi internal atau citra diri dari pustakawan itu sendiri antara lain merasa malu, tidak berarti, dan kurang komitmen terhadap profesinya. Ini berpengaruh terhadap citra perpustakaan di mata masyarakat, yang mengakibatkan program-program perpustakaan tidak berjalan dengan semestinya, kinerja pustakawan semakin berjalan lambat, padahal sudah banyak Peraturan Pemerintah yang sudah dibuat.
Secara sederhana citra diri seorang pustakawan dapat diartikan sebagai gambaran kita terhadap diri sendiri atau pikiran kita tentang pandangan orang lain terhadap diri. Dengan pengertian tersebut maka akan mengajak kita untuk menjawab seluruh pertanyaan yang sangat fundamental: kita ingin dipahami oleh masyarakat sebagai apa? Atau, citra apa yang kita inginkan bagi diri kita sendiri? Pertanyaan itu menjadi fundamental karena pada dasarnya kitalah yang bertanggung jawab atas citra diri kita. Kitalah yang bertanggung jawab atas kesalahpahaman orang lain terhadap kita.
Dengan kata lain, apa yang dipahami orang lain tentang kita sebenarnya dibentuk oleh akumulasi sikap, perilaku, dan cara kita mengekspresikan diri. Kemunculan kita ke publik, dalam bentuk apapun, melalui suatu proses waktu. Secara perlahan-lahan akan membentuk “kesan atau imej” tertentu dalam benak publik. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar tentang kita, itulah yang menjadi faktor pembentuk citra kita di benak mereka. Jadi, citra adalah kesan imajinatif yang terbentuk dalam benak publik dalam rentang waktu tertentu dan terbentuk oleh keseluruhan informasi tentang diri kita yang sampai ke publik. (Matta, 2002: 177)
Sebetulnya citra sangat ditentukan oleh kinerja. Dan kinerja sangat tergantung pada kompetensi atau kapasitas internal yang dimiliki. Jadi, untuk membangun citra pustakawan yang baik hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kinerja kita.
Kinerja mengacu pada total produktivitas kita atau gambaran tentang portofolio kita sebagai pustakawan. Jika misalnya kita mendapatkan kesempatan untuk mengelola perpustakaan Indonesia,
maka kinerja kita akan terlihat pada pertambahan nilai akhir dari seluruh indikator makro kesuksesan pengelola perpustakaan. Mulai dari indikator ekonomi hingga indikator budaya.
Kinerja kita katakanlah sebagai agen perubah sebenarnya sangat ditentukan oleh kapasitas total yang kita miliki. Apabila kinerja dipersamakan dengan kemampuan total produksi, maka kapasitas adalah total kemampuan produksi. Jadi, untuk memperbaiki kinerja meningkatkan kapasitas adalah menjadi keniscayaan. Kalau memiliki kapasitas yang tinggi, maka dengan sendirinya kinerja kita juga akan meningkat. Sehingga, apa yang kita perlukan kemudian adalah sebuah keterampilan teknis untuk membahasakan kinerja kita kepada orang lain bahwa kita layak dijadikan alternatif solusi bagi permasalahan bangsa kita.
secara umum kita dapat mengatakan yang diperlukan untuk membangun citra adalah kompetensi kepakaran kita yang dibentuk oleh dua hal yaitu hard skill dan soft skill. Yang pertama lebih bersifat scientific achievement, sedangkan yang kedua bersifat psychological achievement. Yang pertama bekenaan dengan penguasaan teknis dan detail bidang kepustakawanan dan keperpustakaan, yang kedua berkaitan dengan kemampuan berpikir strategis sebagai perumus kebijakan, wawasan masa depan (forward looking), dan kemampuan perencanaan strategis, kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi publik, dan lainnya.
Bersamaan dengan berkembangnya kompetensi melalui pengembangan kapasitas internal secara berkesinambungan, maka kinerja kita akan meningkat. Dengan cara itu pula kita merebut kepercayaan publik.
Dengan kepercayaan publik yang ada, otomatis citra perpustakaan menjadi naik dan penghargaan terhadap pustakawan semakin meningkat pula.

http://pemasaran.wikispaces.com/file/view/PERAN+PUSTAKAWAN+DALAM+PEMBENTUKAN+CITRA+PERPUSTAKAAN

Minggu, 11 Desember 2011

KATALOGISASI



KATALOGISASI

A. Pengertian  Pengertian Katalog

Katolog adalah daftar koleksi perpustakaan. Katolog bisa disusun berdasarkan alfabetis nama pengarang, judul, nama penerbit dan lain - lain tergantung pustakawan di sekolah masing-masing. Katalog merupakan kumpulan buku -buku yang sudah masuk kedalam perpustakaan.
Katalog adalah Presentasi ciri-ciri dari sebuah bahan pustaka atau dokumen (misalnya: judul, pengarang, deskripsi fisik, subyek, dll.) koleksi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka tersebut yang disusun secara sistematis.
Katalogisasi (cataloging): Kegiatan atau proses pembuatan wakil ringkas dari bahan pustaka atau dokumen (buku, majalah, CD-ROM, mikrofilm, dll.). Istilah ini kadang-kadang juga meliputi klasifikasi bahan pustaka dan secara umum penyiapan bahan pustaka untuk digunakan pemakai. Kadang-kadang disebut juga dengan istilah pengindeksan (indexing).
Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek. Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
Katalog perpustakaan adalah deskripsi pustaka milik suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis (sistematis abjad, nomor klasifikasi) sehingga dapat digunakan untuk mencari dan menemukan lokasi pustaka dengan mudah. Selain untuk alat bantu penelusuran koleksi, katalog dapat juga digunakan untuk mengetahui kekayaan koleksi suatu perpustakaan sebab kartu katalog mewakili buku-buku yang ada di rak yang dimiliki oleh suatu perpustakaan.
Salah satu pekerjaan teknis di perpustakaan adalah kerja “katalogisasi” ini adalah proses pembuatan kartu katalog. Katalogisasi berasal dari kata katalog yang artinya adalah sebuah daftar, oxford dictionary memberi ciri: katalog adalah suatu daftar yang disusun secara sistematis, misalnya menurut abjad dan biasanya dibubuhi penjelasan singkat atau ciri yang menunjukkan kedudukannya.
Sedangkan katalog perpustakaan artinya adalah: daftar buku atau bahan lain yang terkumpul di suatu perpustakaan/suatu koleksi; daftar ini disusun menurut suatu susunan yang mudah dikenali;berisi keterangan dari buku;disajikan dalam bentuk tertentu, yang dikatakan dengan susunan yang mudah dikenal adalah menurut abjad, atau menurut imbol klasifikasi dari subjek buku. Sedangkan yang dimaksud dengan keterangan dari buku adalah judul, pengarang, editor, pelukis, penterjemah, keterangan cetakan, imprint, lokasi dan lain sebagainya. Keterangan dari buku ini harus diberikan dalam bentuk dan susunan menurut peraturan katalogisasi. 

Pengertian Katalogisasi

Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek. Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog. 
Pengatalogan adalah kegiatan menyiapkan pembuatan wakil ringkas dokumen (condensed representations) atau katalog, untuk digunakan sebagai sarana temu kembali, agar dokumen yang dicari dapat ditemukan dengan cepat dan tepat.

B. Tujuan Katalogisasi

Tujuan katalogisasi adalah merupakan sarana yang efisien membantu pengguna perpustakaan dalam memperoleh dokumen. Menurut Cutter (1876) tujuan katalog adalah sebagai berikut:
1.       Memungkin seseorang mememukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan Pengarang, judul atau Subyek

2.      Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan

a.        oleh pengarang tertentu
b.      berdasarkan subyek tertentu, atau
c.        dalam jenis literature tertentu

3.      Membantu dalam pemilihan buku

a.  berdasarkan edisinya
b. berdasarkan karakternya

C.      Fungsi Katalogisasi

Fungsi katalogisasi secara umum adalah sebagai berikut :

1. Mencatat bahan pustaka yang ada di perpustakaan untuk memudahkan pengguna,

2.  Mencari atau menelusur pustaka,

3. mempermudah pencarian buku dalam perpustakaan berdasarkan pengarang, judul dan subyek.

Adapun fungsi dari catalog adalah sebagai berikut :

a. Menunjukkan tempat suatu buku atau bahan lain dengan manggunakan symbol-simbol angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil,
b. Mendaftar semua buku dan bahan lain dalam susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subjek buku yang bersangkutan ke dalam satu tempat khusus perpustakaan untuk memudahkan pencarian entri-entri yang diperlukan,
c. Memberikan kemudahan untuk mencarisuatu buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan.

Katalog merupakan kunci untuk mengetahui isi koleksi dari perpustakaan itu sendiri, antara lain:
1. Untuk memberi gambaran yang jelas kepada pemakai jasa perpustakaan tentang koleksi buku-buku yang terdapat dan dimiliki oleh suatu perpustakaan,
2. Untuk menolong pemakai perpustakaan dalam mendapatkan buku yang diperlukan secara tepat dan cepat,
3. Agar para pengguna perpustakaan mudah mendapatkan bahan pustaka yang diinginkannya,
4. Sebagai sarana pemilihan buku yang tepat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan,
5. Catalog berfungsi sebagai wakil buku yang memberikam keteerangan yang lengkap tentang ciri-ciri buku,
6. Catalog berfungsi sebagai “an instrument of communication “yang meninformasikan buku-buku perpustakaan .

D. Jenis - jenis Katalog 

Ada beberapa bentuk katalog sesuai dengan perkembangan perpustakaan itu sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Katalog buku,
2.      Katalog berkas, merupakan katalog kumpulan kertas,
3.       Katalog kartu, yaitu kartu katalog berukuran 7,5 cm x 12,5 cm kemudian kartu katalog dijajarkan dalam laci catalog,
4.      Katalog komputer (opac) yaitu katalog terbacakan komputer.


Beberapa jenis katalog berdasarkan bentuknya, seperti :

1. Katalog Pengarang adalah semua nama pengarang buku, maka semua kartu catalog pengarang yang sudah terkumpul disusun menjadi abjad nama – nama pengarang masing - masing buku.

2. Katalog Judul adalah catalog yang berbentuk kartu yang kata utamanya adalah judul Buku. Kartu-kartu yang sudah terkumpul disusun menurut abjad judul masing- masing Buku.

Jenis-jenis catalog berdasarkan bentuk fisik adalah sebagai berikut :

a. Kartu katalog (card katalog)

Terbuat dari karton manila, dnegan ukuran internasional 7,5 x 12,5 c. dibagian tengah sebelah bawah diberi lobang, gunanya untuk pengikat supaya tidak mudah lepas dari susunannya, dalam penyimpanannya kartu-kartu ini disusun didalam laci dengan ukuran yang sesuai, dimana bagian luar dari laci tiket untuk tanda isi dari laci tersebut. Selanjutnya laci ini disimpan didalam almari katalog.
Diantara susunan kartu-kartu katalog tersebut diberi kartu penunjuk atau guide card, sebagai penolong untuk mempermudah mancari kartu yang dimaksud. Kartu katalog ini paling praktis didalam praktek, karena mudah menambah, mengurangi dan mengganti. Untuk perpustakaan yang sifatnya tertutup pemakaian bentuk ini kurang praktis, karena pemakai katalog akan berjejal didepan almari katalog.
b. Katalog berkas (sheap catalog)

    Katalog ini merupakan lembaran lepas yang terbuat juga dari karton manila yang dijilid menjadi satu berkas, ukurannya bermacam-macam dan lebih besar dari katalog kartu. Bentuk ini praktis untuk perpustakaan sistem tertutup, karena yang mencari buku tidak berjejal dilemari katalog, katalog berkas bisa diperbanyak dalam beberapa buku.

c. Katalog buku (book catalog)
      Ini dapat diketik, distensil atau dicetak berbentuk buku yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas dimana terdapat uraian dari buku-buku perpustakaan tertentu. Katalog ini biasanya paling murah, dan dapat dibuat banyak dan dapat pula dijual. Hanya kesukarannya dalam penambahan, pengurangan dan perbaikan. Setiap kali katalog ini harus diperbaharui, supaya sesuai dengan keadaan.

Selain itu, catalog juga terdiri atas beberapa jenis yaitu :

a. Katalog Pengarang 
      Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui nama pengarangnya. Atau ingin mengetahui pengarang tertentu telah mengarang buku apa saja. Katalog pengarang disusun sistematis berdasarkan nama pengarang suatu karya di dalam kabinet katalog. Penulisan nama pengarang adalah dengan cara menuliskan terlebih dahulu nama keluarga, contoh 

b. Katalog Judul 
      Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui judul bukunya. Atau ingin mengetahui judul buku tertentu yang sama telah dikarang oleh pengarang mana saja. Katalog judul disusun secara sistematis berdasarkan judul dalam kabinet katalog. Melalui katalog judul dapat diketahui judul-judul buku yang sama, yang dikarang oleh pengarang yang berbeda. 

c. Katalog Subyek 
       Digunakan bila kita ingin mengetahui berbagai buku yang membahas subyek yang sama, biasanya sering digunakan dalam mengumpulkan bahan pustaka untuk kepentingan pembuatan penelitian, makalah dsb. yang membahas suatu subyek tertentu. Melalui katalog subyek akan diketahui karya-karya yang dikarang oleh berbagai pengarang dengan judul yang berbeda-beda tetapi memiliki pokok bahsan yang sama.

E. Prosedur Pengkatalogisasi

Kegiatan pengatalogan secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kegiatan:
1. Pengatalogan deskriptif, yang bertumpu pada fisik bahan pustaka (judul, pengarang, jumlah halaman, dll), kegiatannya berupa membuat deskripsi bibliografi, menentukan tajuk entri utama dan tambahan, pedomannya antara lain AACR dan ISBD.
2. Pengindeksan subyek, yang berdasar pada isi bahan pustaka (subyek atau topik yang dibahas), mengadakan analisis subyek dan menentukan notasi klasifikasi, pedomannya antara lain bagan klasifikasi, daftar tajuk subyek dan tesaurus. Kedua kegiatan ini menghasilkan cantuman bibliografi atau sering disebut katalog yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka

Sistem katalog dibedakan dari susunannya dalam laci katalog, yang terdiri dari:

1) Sistem katalog abjad,   Katalog susunan abjad terpisah

a. Katalog pengarang (author catalog)

b. Katalog judul (title catalog)

c. Katalog subyek (subject catalog)

d. Katalog susunan ensiklopedi atau kamus (dictionary catalog)
yaitu catalog yang disusun menurut abjad pengarang, judul dan subyek dalam satu susunan.

2) Sistem katalog klasifikasi (classified catalog)
Merupakan suatu sistem katalog yang disusun menurut suatu bagian klasifikasi tertentu., terdiri dari tiga susunan yaitu:

a. Katalog pengarang judul disusun menurut abjad.

b. Katalog subyek disusun menurut urutan nomor-nomor klasifikasi tertentu.
Indek subyek yang menunjukkan notasi klasifikasi tertentu untuk suatu subyek, umumnya disusun menurut abjad.
Unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah catalog Nama pengarang atau yang dianggap sebagai pengarang Judul buku Judul tambahan Imprint (impressum) untuk menyatakan kota penerbit, penerbit dan tahun terbit;
Kolasi untuk menyatakan jumlah halaman keterangan lain dan ukuran buku;
Nomor seri bila buku itu mempunyai nomor seri; Anotasi yang merupakan catatan; Tanda buku (call number)




DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2005. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
HASUGIAN Joner. 2003. KATALOG PERPUSTAKAAN Dari Katalog Manual Sampai
Katalog Online (OPAC). http://digilib.unnes.ac.id ( Diakses pada tanggal 17 Maret 2010)
Miswan. 2003. Klasifikasi dan Katalogisasi. http://gober31.multiply.com. ( Diakses pada tanggal
17 Maret 2010)
Yusuf, Pawit M dan Yahya Suhendra. 2007. Pedoman Penyelenggaraan Perpustaka-an Sekolah:
Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

PELESTARIAN, MACAM SIFAT BAHAN PUSTAKA, DAN LATAR BELAKANG SEJARAHNYA


Pengantar
Bahan pustaka adalah salah satu unsur penting dalam sebuah sistem perpustakaan, sehingga harus dilestarikan mengingat nilainya yang mahal. Bahan pustaka di sini berupa terbitan buku, berkala (surat kabar dan majalah), dan bahan audiovisual seperti audio kaset, video, slide dan sebagainya.
Pelestarian bahan pustaka tidak hanya menyangkut pelestarian dalam bidang fisik, tetapi juga pelestarian dalam bidang informasi yang terkandung di dalamnya.
Maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka yang mahal, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan.

Sejarah Bahan Pustaka dan Cara Perawatannya
Bahan pustaka terdiri atas berbagai jenis dan bermacam sifat yang dimilikinya. Dari sejarahnya, manusia menggunakan berbagai medium untuk merekam hasil karya mereka. Bahan yang dipergunakan sesuai dengan pengetahuan manusia serta teknologi pada zamannya.
Bahan yang dikenal sebagai medium perekam hasil budaya manusia adalah: (1) tanah liat, (2) papyrus, (3) kulit kayu, (4) daun tal atau lontar, (5) kayu, (6) gading, (7) tulang, (8) batu, (9) logam (metal), (10) kulit binatang, (11) pergamen (parchmental) dan vellum, (12) leather (kulit), (13) kertas, (14) papan, (15) film, (16) pita magnetik, (17) disket, (18) video disk dan lain-lain. Semua bahan di atas bisa digolongkan sebagai bahan pustaka.
Pustakaan dewasa ini terbuat dari kertas. Sedangkan di masa mendatang mungkin isi sebuah perpustakaan berupa kumpulan disket, karena teknologi komputer memungkinkan demikian.
Kertas bisa dibuat dari berbagai serat yaitu:
  1. serat binatang
  2. serat bahan mineral
  3. serat sintetis
  4. serat keramik
  5. serat tumbuh-tumbuhan.
Kekuatan kertas tergantung dari kekuatan serat sebagai bahan dasarnya.
Bahan pustaka yang lain ialah bahan non-buku yang juga disebut bahan audiovisual, media teknologi, alat peraga dan sebagainya. Materi bahan non-buku begitu bervariasi. Karena itu dalam memelihara bahan non-buku diperlukan berbagai keahlian dan keterampilan khusus. Kita harus memahami apa yang disebut dengan hardware atau perangkat keras dan software atau perangkat lunak. Harus kita fahami cara meng-operasikan peralatan, cara memperbaiki kalau ada kerusakan, dan bisa memeliharanya sehingga bahan-bahan tersebut awet dan lestari.

A.    PELESTARIAN (PRESEVATION)
Pelestarian menurut IFLA yakni mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenangan, metode, dan teknik serta penyimpanannya.
Preservasi adalah kegiatan yang terencana dan terkelola untuk memastikan agar koleksi perpustakaan dapat terus dipakai selama mungkin. Pada dasarnya preservasi itu upaya untuk memastikan semua bahan pustaka cetak maupun non cetak pada suatu dokumenperpustakaan bisa tahan lama dan tidak cepat rusak.
Metode pelestarian, pemeriksaan secara sistematis terhadap koleksi, survey dan peninjauan koleksi.
1.      Teknik penyimpanan
Penyimpanan suatu kegiatan dimana dokumen disusun dalam kondisi yang memungkinkan dokumen tersebut bisa digunakan dan dipelihara dengan baik dan praktis. Bentuk penyimpanan dokumen di perpustakaan yaitu;
a.       Dokumen disimpan dalam bentuk asli
b.      Dokumen disimpan dalam format yang kecil dalam bentuk mikro baik berupa fotocopy, bentuk dalam bentuk lebih kecil atau micro card atau mikrofilm atau microfis.
c.       System penyimpanan dokumen dalam Rak terbagi tiga;
a.       Horizontal dokumen disusun dengan meletakkan dokumen diatas dokumen lainnya. System ini digunakan untuk jajaran dokumen yang besar bentuknya seperti Peta, Poster, Gambar teknik, Foto dan surat kabar,
b.      Vertikal Dokumen disusun dengan panggung nampak dari atas. System ini digunakan untuk dokumen ringan dan tipis yang sering kali digunakan, seperti Korespodensi dan guntingan Koran.
c.       Tegak lurus, dokumen diletakkan berdampingan sehingga punggung dokumen tampak dari samping. System ini digunakan untuk menyimpan buku, arsip, map, piringan hitam dan sejenisnya.
2.      Tujuan pelestarian
a.       Menyelamatkan nilai informasi sutau dokumen,
b.      Menyelamatkan fisik dari sutau dokumen,
c.       Mengatasi kendala kekurangan ruangan,
d.      Mempercepat proses temu kembali informasi.
3.      Fungsi pelestarian
a.       Fungsi melindungi adalah untuk melindungi bahan pustaka supaya terjaga kelestariannya sehingga dapat digunakan lebih baik,
b.      Fungsi pengawetan adalah untuk membuat bahan pustaka menjadi lebih awet dan tahan lama,
c.       Fungsi kesehatan adalah agar terjaga kebersihannya sehingga petugas maupun pengguna perpustakaan terjaga kesehatannya,
d.      Fungsi pendidikan, melatih atau mendidik pengguna untuk lebih memperhatikan pengguna dan perlakuan terhadap bahan pustaka,
e.       Melatih kesabaran, karena untuk merawat bahan pustaka  diperlukan kesabaran yang besar,
f.       Fungsi sosial, mampu menciptakan komunikasi dan hubungan dengan pihak luar,
g.      Fungsi ekonomi, menghemat anggaran dalam kegiatan pemeliharaan bahan pustaka
h.      Fungsi keindahan, karena dengan kerapian dan kebersihan bahan pustaka, maka akan tercipta keindahan sehingga pengguna akan merasa nyaman dan senang.
4.      Unsur-unsur pelestarian
a.       Manajemen yang harus diperhatikan siapa yang bertanggung jawab melakukan pekerjaan ini, bagaimana prosedur pelestarian yang harus diikuti, dokumen yang akan diperbaiki harus dicatat apa saja kerusakannya, apa saja alat dan bahan kimia yang diperlukan,
b.      Tenaga yang merawat dokumen dengan keahlian atau keterampilan dalam bidang pelestarian,
c.       Laboratorium, suatu ruang pelestarian dengan berbagai peralatan perawatan ysng diperlukan. Setiap perpustakaan memiliki ruang laboratorium sebagai bengkel atau gudang perawatan dan perbaikan bahan pustaka,
d.      Dana untuk keperluan kegiatan pelestarian harus diusahakan dan dimonitor dengan baik sehingga pekerjaan ini tidak akan mengalami gangguan.

B.     Macam Perusak Bahan Pustaka

Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka. Karena itu, setiap pustakawan hendaknya mengetahui cara menyusun kembali dan mengangkut buku untuk dikembalikan ke rak, cara mengontrol buku yang dikembalikan oleh pembaca apakah pembaca merusakkan buku atau tidak. Mencegah masuknya binatang mengerat dan serangga ke perpustakaan juga merupakan hal penting yang harus diketahui seorang pustakawan. Begitu pula cara menghindari debu masuk ke perpustakawan cara, mengontrol suhu dan kelembaban ruangan.
Tempatkan kapur barus dan akar “loro setu” di antara buku-buku agar serangga segan menghampirinya. Yang paling baik ialah menyediakan ruangan khusus untuk perbaikan bahan pustaka dengan petugasnya sekaligus, sehingga kalau diperlukan perbaikan bahan pustaka, dapat dikerjakan dengan cepat. Jangan menunggu kerusakan menjadi lebih berat.
Cepatlah bertindak, jagalah selalu kebersihan dan kerapihan sehingga mengundang pembaca untuk memakai perpustakaan dengan baik, dan bagi pustakawan sendiri akan semakin senang bekerja dengan baik.

C.    KONSERVASI DAN RESTORASI
Konservasi merupakan kebijakan dan cara tertentu yang dipakai untuk melindungi bahan pustaka dan arsip dari kerusakan dan kehancuran, termasuk metode dan teknik yang diterapkan oleh petugas teknik.
Restorasi (perbaikan), menurut IFLA menunjuk pada pertimbangan dan cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip yang rusak.
Tujuan Konservasi untuk menghindari dari kehancuran koleksi sedangkan tujuan restorasi untuk memperbaiki bahan pustaka dari kerusakan.
Manfaat Konservasi yaitu bahan pustaka lebih awet, bisa tahan lebih lama dipakai dan diharapkan agar lebih banyak pembaca yang memanfaatkan bahan pustaka. Sedangkan manfaat restorasi yaitu supaya koleksi itu yang sudah rusak bisa dipulihkan kembali dengan teknik tertentu, kemudian diletakkan kembali ke Rak-rak buku untuk dimanfaatkan oleh pengguna.
Perbaikan Bahan Pustaka dan Restorasi
Sebagai pustakawan kita harus dapat memperbaiki dokumen yang rusak, baik itu kerusakan kecil maupun kerusakan berat. Perpustakaan sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melakukan pekerjaan ini. Menambah buku berlubang oleh larva kutu buku atau sebab lainnya, menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total, menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan yang harus dikuasai oleh seorang restaurator. Berbagai macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian pelestarian ini. Peralatan yang diperlukan, serta bahan dan cara mengerjakan perbaikan ini harus dipelajari benar-benar oleh seorang pustakawan atau teknisi bagian pelestarian.

D.    PENCEGAHAN KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA
Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka
Setiap pustakawan harus dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan pustaka. Kerusakan itu dapat dicegah jika kita mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.
Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak merupakan cara untuk dapat mencegah kerusakan bahan pustaka. Tentu saja pencegahan yang berhasil akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perpustakaan.
Dalam kegiatan belajar 2 dibicarakan cara mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur,oleh banjir,oleh api, dan oleh debu. Dalam mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur disarankan agar kelembaban udara ruangan harus dijaga tidak lebih dari 60% RH.
Kapur sirih,arang ,silicagel atau mesin penyerap uap air yang bernama DEHUMIDIFIER dapat digunakan untuk menyerap uap air. Pemeriksaan kelembaban udara ruangan dan pembubuhan obat anti jamur pada buku merupakan salah satu cara mencegah kerusakan bahan pustaka.
Pencegahan kerusakan bahan pustaka karena banjir dapat dilakukan dengan cara membersihkan lumpur dan pengeringan bahan pustaka. Hendaknya bahaya banjir bisa diantisipasi. Kerusakan oleh api dapat dicegah dengan menghindari kebakaran di antaranya dengan memeriksa kondisi kabel listrik secara rutin, penyediaan alat pemadam kebakaran, serta adanya aturan yang ketat misalnya dilarang merokok.

E.     FUMIGASI, DEASIDIFIKASI, DAN LAMINASI

1.      Fumigasi
Agar bahan pustaka bebas dari penyakit, kuman, serangga, jamur, dan lainnya, bahan pustaka perlu diasapkan dengan bahan kimia tertentu yang disebut dengan fumigasi. Dalam mengadakan fumigasi pustakawan harus memperhitungkan jumlah bahan yang akan difumigasi dan luas ruang yang diperlukan. Dengan memperhatikan ruang yang ada maka dipilih pula fumigant yang akan dipergunakan, jenis-jenis fumigant, jumlah yang diperlukan serta lama fumigasi.
Pustakawan juga harus memperhatikan bahaya dari pemakai zat-zat kimia untuk fumigasi. Tidak satu pun bahan kimia dapat dipakai tanpa alat pengaman, atau tanpa supervisi oleh orang yang berpengalaman dalam bidang ini.

2.      Menghilangkan Keasaman pada Kertas
Keasaman yang terkandung dalam kertas menyebabkan kertas itu cepat lapuk, terutama kalau kena polusi. Bahan pembuat kertas merupakan bahan organik yang mudah bersenyawa dengan udara luar. Agar pengaruh udara tersebut tidak berlanjut, maka bahan pustaka perlu dilaminasi. Agar laminasi efektif, sebelum dikerjakan, bahan pustaka dihilangkan atau diturunkan tingkat keasamannya. Ada dua cara menghilangkan keasaman pada bahan pustaka, yaitu cara kering dan cara basah. Sebelum ditentukan cara yang mana yang tepat, maka perlu diukur tingkat keasaman pada dokumen. Ada berbagai alat pengukur tingkat keasaman dokumen yang dibicarakan dalam bahan pustaka ini, sehingga pustakawan dapat memilih cara mana yang paling mungkin untuk dikerjakan sesuai dengan kondisinya.
Tinta yang dipergunakan untuk menulis bahan pustaka sangat menentukan apakah bahan pustaka akan dihilangkan keasamannya secara basah, atau secara kering. Kalau tinta bahan pustaka luntur, maka cara keringlah yang paling cocok. Kalau menggunakan cara basah, harus diperhatikan cara pengeringan bahan pustaka yang ternyata cukup sukar dan harus hati-hati. Kalau hanya sekedar mengurangi tingkat keasaman kertas dan tidak akan dilaminasi, kiranya cara kering lebih aman, sebab tidak ada kekhawatiran bahan pustaka robek. Cara kering ini dapat diulang setiap enam bulan, sampai bahan pustaka dimaksud sudah kurang keasamannya dan dijamin lebih awet.

3.      Laminasi dan Enkapsulasi
Setelah kertas dihilangkan atau dikurangi sifat asamnya, maka untuk memperpanjang umur bahan pustaka perlu diadakan pelapisan atau laminasi, terutama bahan pustaka yang lapuk atau robek sehingga menjadi tampak kuat atau utuh kembali. Ada 2 cara laminasi yaitu laminasi dengan mesin dan dengan cara manual.
Pertimbangan yang perlu diambil dalam melaminasi suatu bahan adalah bahan tersebut harus bersih dan dikurangi tingkat keasamannya. Cara lain selain laminasi adalah enkapsulasi. Enkapsulasi adalah salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan fisik misalnya rapuh karena umur. Yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan enkapsulasi adalah kertas harus bersih, kering dan bebas asam.

4.      PENJILIDAN
Mengenal Bahan Jilidan
Buku bukan merupakan tumpukan kertas yang berdiri sendiri, tapi merupakan struktur yang satu sama lain saling terikat. Struktur buku terdiri atas: segi, foredge, kertas hujungan, badan buku, papan jilidan, ikatan timbul, groove, tulang pita kapital dan sebagainya. Agar struktur itu tidak lepas satu sama lainnya, maka buku perlu dijilid.
Perlengkapan penjilidan meliputi: pisau, palu, pelubang, gunting, tulang pelipat, penggaris besi, kuas, gergaji, jarum, benang, pengepres, pemidang jahit, mesin potong dan sebagainya.
Mutu kualitas jilid selain ditentukan oleh kemahiran dalam bekerja juga ditentukan oleh bahan yang digunakan.
Bahan penjilid meliputi kertas, kain linen, perekat, benang dan kawat jahit. Arah serat kertas merupakan hal yang penting bagi pekerjaan penjilidan. Arah serat yang salah akan mengakibatkan jilidan tidak rapi dan lemah.
Menyiapkan Penjilidan dan Jenis-jenis Penjilidan
Sebelum dijilid, buku perlu dipersiapkan secara baik. Kekeliruan atau kekurangan dalam persiapan, dapat berakibat fatal dan mengecewakan. Juga merupakan pemborosan jika harus dijilid ulang. Persiapan penjilidan meliputi dua hal yaitu: (1) penghimpunan kertas-kertas atau bahan pustaka, (2) penggabungan. Penghimpunan harus dikerjakan secara teliti, jangan salah mengurutkan nomor halaman. Kalau majalah, jangan salah mengurutkan nomor penerbitannya. Panjang-pendek, serta lebar kertas harus disamakan. Rapihkan sisi sebelah kiri agar pemotongan dan perapihan dapat dikerjakan untuk ketiga sisi yang lain. Petunjuk penjilidan harus disertakan, agar hasilnya sesuai dengan yang kita kehendaki.
Dalam melakukan penggabungan kita harus melihat jilidan macam apa yang dikendaki sesuai dengan slip petunjuk penjili dan.
Ada lima macam jilidan yang dapat dipilih: (1) jilid kaye, (2) signature binding, (3) jilid lem punggung, (4) jilid spiral, (5) jilid lakban.

F.     PETA, SLIDE, FOTO KOPI DAN TINTA

1.      Pelestarian Koleksi Peta
Peta merupakan salah satu sumber informasi untuk menunjang penelitian, pendidikan, maupun untuk keperluan bisnis. Karena itu ada bermacam-macam jenis peta, misalnya peta geografis, peta perdagangan, peta bahasa, peta navigasi, peta hasil bumi dan sebagainya.
Pelestarian koleksi peta merupakan pengetahuan yang harus dimiliki oleh petugas perpustakaan maupun oleh petugas bagian pelestrian. Peta adalah bahan pustaka yang unik, sebab bentuk dan ukuran, serta informasi yang terkandung di dalamnya begitu beraneka ragam. Dengan banyaknya bentuk dan ukuran tersebut maka diperlukan ruang penyimpanan yang beragam pula.
Berbagai jenis kerusakan pada peta antara lain kerusakan karena faktor kimiawi dan kerusakan karena faktor mekanis.
2.      Slide
Slide merupakan salah satu jenis bahan audio-visual yang banyak dipergunakan di perpustakaan terutama untuk mendukung pengajaran dan penelitian.
Slide juga memerlukan pemeliharaan secara hati-hati. Tempat penyimpanan harus bebas dari cahaya langsung dari luar, debu serta kelembaban. Slide yang berserakan akan mudah rusak karena kena debu serta goresan.
Slide tidak dapat dibaca dengan mata telanjang. Untuk membaca slide, harus menggunakan alat yang disebut proyektor. Karena itu proyektor harus selalu dirawat agar slidenya dapat dimanfaatkan setiap saat.
3.      Foto Kopi dan Tinta
Dewasa ini banyak perpustakaan menggunakan foto kopi terutama untuk melestarikan koleksinya yang sudah rusak dan langka, sehingga bisa dipinjamkan pada pemakai. Tetapi foto copi sebagai sarana pelestarian dokumen masih kontroversi.
Tinta ternyata merupakan komponen pembuat buku yang sangat penting dan beraneka ragam. Sejak 2.500 tahun Sebelum Masehi tinta sudah dikenal oleh bangsa Mesir dan bangsa Cina. Sampai ditemukannya mesin cetak pada pertengahan abad ke-15, tinta tulis memiliki peranan yang paling penting dalam produksi buku. Setelah mesin cetak diketemukan, bentuk tintanyapun menyesuaikan dengan keperluan percetakan. Tentu saja banyak variasi soal kualitas, warna dan harganya. Tiga macam jenis tinta ialah: 1) tinta tulis, 2) tinta ball point dan 3) tinta cetak.
Tinta juga dapat meningkatkan keasaman pada kertas, sehingga dengan jenis tinta tertentu misalnya iron gall dapat merusak kertas dengan cepat.

G.    PELESTARIAN NILAI INFORMASI

Bentuk Mikro
Dalam mengatasi kekurangan tempat atau ruangan di perpustakaan dan juga melestarikan informasi dari buku-buku yang sudah lapuk, maka diperlukan alih bentuk dokumen. Alih bentuk yang terkenal ialah bentuk mikro atau lazim disebut mikrofilm. Kelebihan bentuk mikro adalah: hemat ruang, aman dari pencurian, mudah direproduksi dan murah, mudah diakses, akurat dan ekonomis.
Kekurangan bentuk mikro, misalnya harus memakai alat baca yang harganya cukup mahal, dan selalu berubah mutu serta semakin mahalnya alat baca menjadi kendala bagi perpustakaan. Membaca dengan alat baca yang kaku mengurangi kenyamanan pembacanya. Untuk mengatasi hal tersebut diberikan alternatif membuat hard copy yang dapat dibaca dan dibawa sekehendak pembacanya.




CD-ROM (Compact Disk-Read Only Memory)
Teknologi video disk, yang semula dicobakan untuk pelestarian di The Library of Congress tahun 1982, ternyata telah berkembang lebih maju untuk penyimpanan, pengolahan, dan penemuan informasi yang handal dewasa ini.
Sebagai pustakawan di zaman modern ini kiranya tidak salah kalau Anda mempunyai gambaran mengenai teknologi informasi yang memberikan banyak harapan bagi produksi, pengolahan, pemakaian dan pelestarian informasi. Kemudahan untuk menemukan kembali informasi yang telah disimpan dalam disk, misalnya dalam bentuk CD-ROM inilah yang memberikan prospek cerah bagi perkembangan layanan perpustakaan.
Sesuai dengan namanya, data atau informasi digital yang sudah direkam di dalam CD-ROM tidak dapat dihapus atau ditambah pemakai, tetapi hanya dapat dibaca saja oleh pemakai.

Beberapa keunggulan dari CD-ROM:
  1.  merupakan sarana penyimpanan informasi berkapasitas tinggi
  2.  memudahkan penelusuran literatur
  3.  tahan terhadap gangguan elektromagnetis
  4.  bagi perpustakaan CD-ROM memudahkan pembuatan katalog
  5. mempercepat penerbitan

H.    PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI BERBAGAI NEGARA
Keadaan Pelestarian Bahan Pustaka di Inggris
Tokoh kawakan Languell yang menerbitkan bukunya tahun 1957 memberikan gagasan tentang perlunya pelestarian bahan perpustakaan pada masa itu. Melalui diskusi dan pertemuan tahunan dari asosiasi perpustakaan di Inggris, mereka semakin yakin bahwa bagian pelestarian makin diperlukan. Dengan bukunya yang baru terbit tahun 1991 John Feather melukiskan bahwa kegiatan pelestarian bahan pustaka tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan manajemen koleksi perpustakaan. Buku ini semakin memberikan kepercayaan bagi pustakawan di Inggris, bahwa bagian pelestarian sangat diperlukan. Berbagai masalah yang mereka hadapi, misalnya tentang mahalnya buku dan terbatasnya anggaran perpustakaan mengharuskan pustakawan untuk berpaling kepada pelestarian.
Faktor pendukung yang ada di Inggris, misalnya lengkapnya jenis bahan kimia untuk menghilangkan berbagai musuh bahan pustaka, tersedianya pengusaha komersial dalam bidang penjilidan atau dalam bidang pelestarian, memberikan kesempatan kepada para pustakawan untuk memilih cara terbaik dalam pelestarian bahan pustaka yang sesuai dengan kondisi di tempat mereka. Banyaknya perpustakaan rujukan yang telah berhasil melakukan program pelestarian seperti The British Library atau Universitas Cambridge, merupakan tempat yang baik bagi para pustakawan di Inggris untuk belajar langsung ke lapangan.

Keadaan Pelestarian di USA
Banyaknya faktor pendukung menyebabkan sistem pelestarian di Amerika Serikat sangat maju. Faktor pendukung tersebut di antaranya, para pakar yang dengan rajin memberikan konsultasi dan menuliskan pengalaman mereka pada majalah profesional maupun dalam bentuk buku yang jelas dan mudah diikuti. Persaingan sehat antara para pakar menimbulkan gairah kerja bagi mereka para pustakawan bagian pelestarian. Faktor pendukung yang lain ialah adanya penyangga dana dari yayasan atau pemerintah federal untuk proyek atau program pelestarian yang baik.
Faktor selanjutnya ialah adanya laboratorium yang dimiliki oleh perpustakaan besar, dan percobaan-percobaan yang mereka lakukan demi kemajuan bidang pelestarian. Adanya kepeloporan yang tangguh dalam menciptakan tenaga pelestarian terdidik, dari waktu ke waktu dan dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi.
Faktor pendukung lainnya ialah kesediaan bekerja sama antara perpustakaan yang satu dengan yang lain baik dari suatu daerah lokal, regional, sampai tingkat nasional. Sistem komunikasi yang mudah dan murah mendukung terselenggaranya kerja sama dalam pelestarian tersebut.

Keadaan Pelestarian di Puerto Rico (Amerika Latin)
Iklim daerah tropis sangat tidak mendukung pelestarian bahan pustaka. Haydee Munoz Sola memberikan gambaran program pelestarian yang ada di kampus Medical Services University of Puerto Rico di Rico Piedras. Sebelum masuk kepada permasalahannya ia menceritakan sedikit tentang sejarah perpustakaan dan sejarah pelestarian. Iklim tropis dengan berbagai ciri-cirinya yang dapat merusakkan koleksi perpustakaan dan banyaknya kendala yang harus dihadapi oleh perpustakaan di daerah tropis termasuk kurangnya anggaran untuk menyelenggarakan program pelestarian. Kemudian ia menceritakan letak geografis Puerto Rico yang banyak bencana alam seperti badai, banjir, angin puyuh dan sebagainya.
Perpustakaan kesehatan Puerto Rico memiliki koleksi khusus yang disebut The Ashford Collection, yang memiliki 3000 dokumen yang berupa buku dan korespondensi. Dokumen ini sangat penting untuk penelitian penyakit di daerah tropis. Karena itu perlu diawetkan.

I.       ORGANISASI, LEMBAGA RISET, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN BIDANG PELESTARIAN
Organisasi Lokal, Nasional, dan Internasional
Organisasi Bidang Pengawetan sangat berjasa dalam mengembangkan bidang ini. Mereka menyelenggarakan seminar, workshop dan pertemuan atau diskusi lainnya. Banyak buku petunjuk dibuat untuk disebarluaskan oleh organisasi ini. Begitu pula latihan keterampilan banyak diberikan oleh para organisasi tersebut.
Ada tiga macam organisasi bidang pelestarian yaitu: (1) organisasi lokal, (2) organisasi nasional, (3) organisasi internasional.
Yang dimaksud dengan organisasi lokal ialah organisasi yang sifatnya hanya berlaku lokal, menurut daerah-daerah tertentu. Di Indonesia tidak ada organisasi semacam ini.
Organisasi pelestarian yang bersifat nasional di Indonesia juga belum ada.

Lembaga Riset, dan Pendidikan Teknisi/Profesional
Lembaga riset penting untuk mendukung kehidupan dan perkembangan suatu profesi. Karena itu, kita sering menemukan R & D yang artinya Research & Development, sepasang kata yang bergandengan sebagai suatu sebab akibat dari suatu kegiatan. Penelitian diadakan untuk mencapai suatu perkembangan. Begitu pula dalam profesi pelestarian dan pengawetan dokumen, perlu diadakan berbagai penelitian untuk memperoleh perkembangan dalam bidang tersebut. Saat ini di Indonesia belum memiliki lembaga riset bidang pelestarian.
Jurusan ilmu perpustakaan Fakultas Sastra UI memberikan pendidikan pelestarian sebagai satu mata kuliah saja berjudul: Pelestarian dan Pemeliharaan Bahan Perpustakaan untuk program S1, S2 dan S0 perpustakaan dan D III Kearsipan.

Ada tiga jenis tenaga dalam bidang pelestarian yaitu:
  1. Pustakawan untuk pelestarian, yang mengepalai Bagian Pelestarian di perpustakaan.
  2. Konservator, yaitu orang yang langsung bertanggung jawab untuk memperbaiki dokumen.
  3. Teknisi Bidang Konservasi.


Rencana Pembentukan Bagian Pelestarian untuk Perpustakaan
Dalam menentukan kebijakan program pelestarian, kita harus selalu melihat kepada keadaan fisik bahan perpustakaan. Ini dipergunakan sebagai titik tolak perbaikan, menentukan lama, dan skala prioritas pelestarian. Bagian pelestarian tidak kalah penting dengan bagian-bagian lain di perpustakaan. Bagian ini memang sangat penting untuk dimiliki karena dapat meningkatkan mutu pelayanan perpustakaan. Dengan adanya bagian ini diharapkan sewaktu-waktu buku diperlukan sudah tersedia di rak. Kalau ada kerusakan cepat dapat diperbaiki.
Selanjutnya faktor-faktor lain yang harus diperhatikan ialah keadaan koleksi perpustakaan, apakah koleksi tersebut sudah memenuhi kebutuhan pembaca, apakah koleksi tersebut banyak rusak atau koleksi tersebut tidak perlu dilestarikan. Faktor kedua adalah penggunaan koleksi secara padat atau tak pernah digunakan sama sekali. Faktor selanjutnya ialah tuntutan pemakai yang selalu menghendaki koleksi yang rapih. Faktor bangunan dan ruangan tempat menyimpan buku juga diperhatikan. Dalam melestarikan koleksi ada tiga hal yang diperhatikan yaitu: 1) Bahan apa saja yang perlu dilestarikan?, 2) Untuk berapa lama bahan dilestarikan?, 3) Alat-alat apa yang dipergunakan untuk melestarikan? Dalam melestarikan bahan pustaka kita harus melihat: 1) subjek, 2) format, 3) usia bahan, 4) penggunaan bahan.
Mengenai lama bahan dilestarikan itu tergantung dari keperluan perpustakaan. Pembentukan suatu program pelestarian di suatu perpustakaan dapat dimulai setelah semua fihak dari bagian-bagian lain perpustakaan menyetujuinya.
Sesudah semuanya jelas, maka dapat disusun pedoman tentang kebijakan pelestarian yang dapat dipakai oleh pihak pimpinan untuk membentuk program pelestarian di perpustakaan tersebut untuk kepentingan pelestarian.
Program pelestarian bahan perpustakaan di suatu perpustakaan tidak akan sama dengan program pelestarian yang dimiliki perpustakaan lain. Karena itu suatu model yang paling canggih pun tidak akan dapat memenuhi keperluan bagi semua perpustakaan